Thursday, June 4, 2015


Apakah Anda seorang solo traveler ? Bepergian sendiri biasanya membuat Anda ketakutan, nah saya mempunyai tips dan trik untuk Anda yang bermanfaat dan menyenangkan dalam perjalanan traveling, dan dapat membantu Anda untuk tumbuh sebagai pribadi traveling.

Berikut ini saya akan tuliskan 15 hal solo traveling yang harus Anda mengerti :

1. Anda Tidak Akan Datang Kembali ke Orang  Yang Sama

Melakukan traveling dunia sendiri biasanya Anda akan bersinggah ketempat atau kerumah sesama komunitas traveling, itu akan membuat Anda semangat dalam melakukan solo traveler. Anda menjadi lebih sadar diri dan terbuka dengan setiap perjalanan  solo traveler, dan Anda memiliki lebih percaya diri dalam melakukan solo traveler.

2. Apakah Anda Dalam Pengendalian Emosi

Melakukan solo traveler untuk menghilangkan tingkat stres secara teratur, dari perjalanan penerbangan ke destinasi yang dituju sampai ke kamar hotel. Anda dengan cepat mengajar diri sendiri untuk menahan emosi atau mudah marah, bahakan Anda ketika merasa khawatir dan tahu bagaimana untuk selalu tetap tenang.

3. Apakah Anda Tipe Orang Yang Suka Menego

Setiap pelancong memahami pentingnya negosiasi, karena itu perlu untuk bernegosiasi ketika Anda membutuhkan sesuatu barang  ataupun jasa yang Anda inginkan. Solo traveler  tidak bisa mengandalkan teman untuk mendukung  trevelingnya, jadi disinilah jiwa negosiasi sangat berguna.

4. Anda Bisa Live In The Moment

Solo Traveler tahu bagaimana aktifitas kegiatan baik adat budaya mauoun destinasi wisata dpat dilihat langsung dengan kedua mata. Tidak peduli bahwa ada badai terjadi di luar, bahakan itu merupakan kepuasan tersendiri saat solo traveler dan dapat mengabadikan moment itu melalui camera berupa foto atau vidio.

5.Anda Akan Belajar Sesuatu Dari Setiap tempat Anda Kunjungi

Setiap lokasi dan budaya berbeda di setiap tempat yang dikunjungi, dan ada begitu banyak untuk melihat dan belajar. Ketika Anda bepergian sendirian Anda mendapatkan kesempatan untuk benar-benar mengexplore tempat yang dikunjungi, dan dapat belajar sesuatu yang baru tentang dunia manapun Anda pergi.

6. Anda Memahami Pentingnya Meninggalkan Zona Nyaman Anda

Jika Anda dapat melakukan perjalanan ke negara yang tidak diketahui saja, Anda mungkin cukup bagus di meninggalkan zona kenyamanan Anda. Anda sangat senang untuk mendorong diri sendiri, karena tahu pengalaman terbaik terjadi di luar zona kenyamanan Anda.

7. Tidak Memiliki Komitmen

Salah satu bagian terbaik dari menjadi pelancong tidak harus melakukan; Anda dapat membatalkan dan mengubah rencana tanpa ada yang mengganggu, Anda dapat mengubah tujuan Anda secara mendadak, dan jika Anda menyukai tempat, Anda bisa tinggal selama yang Anda inginkan!

8. Selalu Merubah Perspektif Anda

Menjadi pelancong berarti Anda benar-benar mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan orang asing dan terhubung dengan mereka. Setiap kali Anda berbicara dengan orang lain di luar negeri Anda melihat dunia melalui mata mereka, dan perspektif Anda berubah sedikit, dan dapat membuat Anda lebih berpikiran terbuka.

9. Mengabaikan Rasa Takut

Anda telah berurusan dengan rasa takut sebelum melakukan solo traveler,jika bepergian sendirian menakutkan? Bagaimana jika saya kehilangan paspor saat solo traveling? Meskipun kekhawatiran ini, Anda mengabaikan rasa takut sehingga Anda bisa mengalami bepergian sendiri. Sekarang Anda dapat sering mengabaikan rasa takut, karena Anda tahu Anda mampu menangani apa pun.

10. Menentukan Baget Untuk Melakukan Solo Traveler

Harus menyiapkan baget yang cukup untuk melakukan perjalan jauh,karena setiap fasilitas yang Anda perlukan saat solo traveler dibayar dari rekening bank Anda sendiri, mengikuti rencana yang Anda buat sendiri. Anda telah belajar bagaimana mengukur berapa lama solo traveler yang akan Anda lakukan.

11. Percaya Diri

Percaya diri ketikia membuat planing solo traveler. Karene saat melakukan perjalan ini tidak ada orang yang akan memesenkan tiket, penginapan, makan dan minum dan menyediakan obat-obatan. Disinalah Anda harus percaya diri untuk memenejemen diri sendiri saat melakukan solo traveler.

12. Apakah Anda Tahu Bagaimana Pentingnya Orang Lain?

Disini percaya diri sangat berguna, bagaimana untuk menghargai orang lain. Bepergian sendiri berarti Anda harus bergantung pada orang asing sepanjang waktu, dari sopir taksi,tempat makan, sampai orang-orang disekitar ketika bertemu saat traveling untuk menggali informasi perjalan yang akan Anda lakukan maupun sesudah Anda melakukan solo traveler ,sebagai bahan refrensi untuk melakukan solo traveler berikutnya.

13. Dapat Mengetuhui  Diri Sendiri

Menghabiskan waktu sendirian adalah cara sempurna untuk benar-benar mengenal diri sendiri. Mencintai orang-orang dalam hidup Anda, tetapi Anda juga suka bagaimana solo traveler memberi Anda kesempatan untuk menghabiskan waktu berkualitas dengan diri sendiri.

14. Berlatih Untuk Mengikuti Kata Hati

Sering ada beberapa insiden dalam melakukan perjalanan, dari kehilangan kunci kamar, tersesat dalam melakukan perjalanan ke destinasi yang dituju maupun untuk kembali kembali ke tempat penginapan. Solo traveler harus percaya diri dan mengikuti kata hati untuk membantu memecahkan masalah, cara ini sangat membantu mereka untuk menjadi orang yang benar-benar percaya diri di kemudian hari.

15. Selalu Ingin Melakukan Solo Traveler

Senang bepergian dengan teman atau pasangan Anda, tetapi Anda tahu pada titik tertentu Anda akan melakukan perjalanan sendirian lagi. Anda bisa benar-benar mempunyai kesan tersendiri dengan negara yang Anda kunjungi, dapat melakukan apapun yang Anda inginkan dan bisa menghabiskan waktu yang berkualitas dengan diri sendiri - kesempurnaan.


Tuesday, June 2, 2015

Membuka-buka album foto lama di laptop lama ternyata membuat saya menemukan kembali hasil hunting foto 5 tahun yang lalu. Sebuah folder bertuliskan "Waisak 2010" membuat saya menghentikan sejenak kegiatan menyusuri kenangan lewat jajaran foto-foto lama. 

Tahun 2010. Sebulan sebelum perayaan Waisak dimulai, saya dan beberapa teman sudah menyusun rencana untuk datan di upacara Pradakshina. Tujuan utamanya tentu saja memotret. Sebagai seseorang yang bermazhab human interest, acara ini sungguh luar biasa dan wajib untuk didatangi. Maka ketika hari H pun tiba, jam lima sore saya dan teman-teman sudah duduk manis diluar pintu masuk Borobudur. 
Azan Maghrib berkumandang. Seorang teman mencoba masuk ke dalam Borobudur namun petugas menghalangi. Hanya untuk umat, begitu katanya. Jika ingin memotret petugas itu menyarankan untuk masuk lewat gerbang Hotel Manohara. Beberapa teman mencoba untuk bernegosiasi sementara saya masuk begitu saja mengikuti rombongan umat. 
Setibanya di dalam saya sempat kehilangan arah. Begitu banyak orang di dalam. Tak semuanya umat. Jurnalis dan turis ikut berbaur di sana. Beberapa biksu berseliweran. Terus terang saya tak menyangka. Pradakshina ternyata meriah.
Hari itu, untuk pertama kalinya saya terlibat dalam sebuah kemeriahan perayaan hari besar umat beragama lain. 

The Prayers


Menyalakan lentera bersama

Terbang Tinggi membawa Doa & Harapan

Tahun 2014, sehari setelah upacara Pradakshina bergulir banyak dari mereka yang berseru. Kehadiran para wisatawan dan jurnalis dadakan ternyata sudah sampai ke tahap yang mengganggu. Beberapa media melansir bahwa tindakan para pemburu gambar itu sungguh kelewat batas. Ada batas-batas toleransi yang dilanggar hanya demi sebuah gambar indah yang akan diunggah ke media sosial.
Pertanyaannya: adakah saat itu yang dengan mudah menerobos penjagaan sekuriti seperti saya? Ataukah demi 'menjual' Borobudur maka pihak-pihak tertentu menjadi lebih permisif sehingga orang dengan mudah masuk dan mengikuti ritual yang mestinya sakral itu?
Ritual keagamaan yang memang merupakan sebuah potensi dari sebuah pariwisata budaya (cultural tourism) sebenarnya boleh dibilang cukup rawan untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang 'dijual' atas nama pariwisata. Akan ada nilai-nilai yang terkikis di situ. Bahkan mungkin saja suatu saat nanti ada sesuatu yang ditambahkan atau ada polesan-polesan lain. 
Seiring dengan munculnya wisata budaya sebagai primadona baru dunia pariwisata membuat beberapa kebudayaan bahkan ritual agama menjadi komodifikasi kebudayaan atau agama, seperti yang diungkapkan oleh Karl Marx dalam Encyclopedia of Marxism.
Malam ini, lima tahun setelah untuk pertama kalinya saya datang dan melihat langsung upacara Pradakshina, saya seperti empat tahun terakhir ini memutuskan untuk tidak akan pernah datang lagi ke sana. Setidaknya saya tak ingin mencemari kekhusyu'an para bhiksu yang sedang melantunkan doa dengan kehadiran saya, dengan kilatan lampu blitz atau celoteh tak penting yang akan menganggu mereka.
Mungkin, memang harus ada hal-hal unik yang tak harus selalu diwartakan demi kebaikan hal itu sendiri.

Anyway, 
Selamat merayakan hari Waisak bagi seluruh umat Buddha di dunia
Sabbe Satta Bhavantu Sukithata
Semoga semua makhluk berbahagia...


PS: thank's for my friends for allowing me to use their pictures

Langit masih gelap, ketika belasan manusia berjejal di depan sebuah loket kecil. Beberapa merapatkan jaketnya yang tak terlalu tebal sambil mengulurkan rupiah ke penjaga loket. Belum juga antriannya menyusut, serombongan bule datang lengkap dengan kamera dan lensa telenya, berjalan sedikit tergesa dan segera menempatkan diri mereka di barisan antrian itu. Meski matahari masih terlelap dalam tidurnya, tapi Punthuk Setumbu sudah ramai. Mereka dan juga saya berada di sini untuk satu hal: menikmati sunrise dan lansekap indah di tempat ini!
Setelah tiket di tangan, bergegas saya mulai menapaki jalan setapak yang sudah dipaving menuju ke puncak bukit. Tiada lampu yang menerangi kecuali sinar lampu senter dari ponsel yang memang sengaja saya nyalakan. Beberapa penduduk lokal berjaga-jaga di pojokan-pojokan tertentu. Mereka bertugas menunjukkan arah. 

Menjelang terang

Dua puluh menit kemudian, saya sudah berjejal bersama para pemburu sunrise lainnya. Ah, benar kata seorang kawan. Punthuk Setumbu kini sudah semakin mainstream. Terlalu banyak orang yang datang ke sini sehingga membuat ritual menikmati sunrise  menjadi tak khusyu' lagi. Terlebih di Minggu dini hari seperti ini. Mungkin waktu terbaik menikmati sunrise di tempat ini adalah di awal minggu atau di tengah minggu.
Meski begitu saya tak gentar. Pagi ini saya sudah berniat untuk merayakan pergantian gelap ke terang di tempat ini.

Menunggu Matahari


Para Pemburu

Pemburu-pemburu sunrise itu, beberapa datang bersama keluarga atau teman-temannya, namun ada pula yang datang berpasangan bahkan sendirian saja. Sambil menunggu munculnya sang mentari, mereka mulai menyisir pojok-pojok tempat ini yang tersisa agar dapat menyaksikan sunrise dengan nyaman. Beberapa melakukan wefie atau selfie dari kamera poket atau kamera ponsel dengan bantuan lampu flash. Lainnya cuma duduk-duduk sambil mengobrol.  Sepasang kekasih yang duduk tak jauh dari saya sedang asyik mengobrol dan melambaikan tangan sambil tersenyum ketika tahu saya sedang menjadikan mereka sebagai 'model'.

"Nonton sunrise di sini memang lagi ngetren sekarang. Banyak para pengusaha perjalanan kecil-kecilan yang bikin paketan sunrise  di Punthuk Setumbu. Kalau beberapa tahun yang lalu sih....masih sepi!" sambil menikmati saya yang meneguk air mineral, seorang bapak-bapak bercerita. Ternyata beliau adalah salah seseorang yang ikut mengurusi penyelanggaraan "Wisata Nirwana Sunrise" ini.
"Lagipula, nonton sunrise di sini jauh lebih murah daripada yang di Borobudur sana," tambahnya lagi.
Saya mengangguk mengiyakan. "Makanya sampai penuh berjejalan ya, Pak!"
Bapak itu tertawa. "Rejeki itu namanya, Mbak!"

Sudah hampir pukul enam tapi rupanya matahari masih enggan menampakkan dirinya. Hanya semburat tipis berwarna jingga yang mulai terlihat menghiasi langit. Segera saya mengatur settingan kamera  dan mencoba untuk mengabadikan perubahan langit dari gelap yang perlahan menjadi terang. Sementara itu, beberapa dari para pemburu sunrise terlihat tak sabar. Momen munculnya matahari di tempat ini memang konon istimewa. Langit jingga, matahari bulat keoranyean, dan siluet Borobudur yang muncul dari sela bukit hijau. Tapi agaknya pagi ini, mendung mengacaukan segalanya.

Saya tersenyum kecut. Meski gagal mendapatkan sunrise istimewa namun setidaknya pagi ini saya berhasil mengapresiasi Borobudur dan alamnya dengan cara yang berbeda. Ternyata melihat Borobudur dari kejauhan sama indahnya, bahkan jauh lebih indah ketimbang melihat Borobudur dari jarak dekat. Kabut  tipis yang menyelimuti alam di sekitar Borobudur membuat tampilan bukit-bukit itu semakin indah. Sedikit terkesan monokromatik. Dan, khusyu'!

Misty morning

Ah! Jadi seperti inilah nirwana di dunia itu....



Monday, June 1, 2015


Apakah Anda merupakan salah satu dari sekian banyaknya penggemar batu akik Indonesia? Jika Anda merupakan pecinta batu akik yang ada di Indonesia ini, Berarti Anda tidak salah membuka halaman blog saya. Di postingan saya kali ini akan membahas topik tentang bagaimana cara “Merawat Bahan Batuan Sebelum Dipotong Maupun Digosok”.

Khususnya bagi Pria saat ini, Batu akik  merupakan primadona yang nomor satu dibandingkan dengan wanita cantik. Bagi pecinta batu akik tentunya meinginkan batu akik yang dikenakan kelihatan mengkilap dan mempunyai kualitas yang top sehingga orang yang melihatnya tidak bisa berkedip. Tentu itu semua dapat diperoleh dengan cara perawatan yang tidak sembarangan.

Banyak faktor yang menyebabkan kilau batu akik itu tidak maksimal. Beberapa faktor yang menyebabkan batu akik kurang berkilau dan mengkilap diantaranya seperti penggosokan yang salah atau cara perawatan batu sebelum digosok.

Nah kali ini saya mempunyai tips dan trik “Merawat Bahan Batuan Sebelum Dipotong Maupun Digosok”, yang saya dapatkan dari seorang teman facebook saya beliau bernama
Timur Sinar Suprabana, beliau mengepostkan postingannya sebagai berikut.

  • Sebelum dipotong ataupun digosok, bahan batuan juga membutuhkan tahap perawatan. Untuk bahan batuan bermotif, Teristimewa kelas akik, saya biasa melakukan perawatan dengan cara merendamnya dengan oli. Perendaman dengan oli ini sangat membantu untuk memunculkan tampilan urat, Motif dan warna bahan batuan. Dengan demikian, Bagi pencinta batu gambar akan lebih mudah dalam "membaca" wujut urat ataupun motif itu yang pada giliran akhirnya memudahkan memilih bagian mana yang akan diambil. Hasil perendaman juga membantu saya untuk memperkirakan tingkat kilau atau kegilapan batuan jika sudah rampung digosok dan disangkling.
  • Waktu perendaman biasanya 3 x 24 jam. Untuk jenis batuan lain kategori bukan akik, Saya biasa melakukan perendaman dengan menggunakan air mawar, Air aki ”air yang biasa dipakai untuk ngejogki aki”, atau air mineral tergantung jenis batuannya. Perendaman ini sangat membantu untuk mengangkat atau mengurangkan kandungan kapur yang ada di dalam bahan batuan atau melekat di permukaan batuan dan menjadikannya kenyal saat digosok. Perendaman dengan air ini saya lakukan dalam tiga tahap.
a.   Tahap pertama perendaman saya lakukan dengan mencampurkan blimbing wuluh, irisan jeruk nipis dan kalau ada saya tambahi buah mengkudu masak. Ketiga jenis bahan alami itu saya blender jadi satu dan saya masukkan ke air aki untuk merendak bahan batuan. Ini saya lakukan terutama untuk batuan yang tingkat kandungan kapurnya tinggi. perendaman ini juga biasa berlangsung selama 3 x 24 jam.

b.   Tahap kedua adalah mengangkat batuan yang direndam, lalu mencucinya sampai bersih dengan menggunakan air yang langsung mengalir dari kran. Ada kalanya saya semprot dengan menggunakan selang. Dengan demikian sisa-sisa blimbing wuluh, jeruk nipis dan mengkudu benar-benar bersih. Selanjutnya saya lap dengan kain bersih dan saya angin-anginkan sekitar lima jam. Jika sudah kering secara alami kembali saya rendam. Kali ini dalam air aki tanpa campuran apapun. Perendaman yang merupakan pembersihan akhir ini saya lakukan 2X24 jam. Setelah dirasa cukup kembali diangkat, dibersihkan, dikeringkan.

c.       Tahap tiga, yang paling mengasyikkan satu demi satu bahan batuan saya olesi oli rem mobil untuk kemudian saya diamkan selama 3 x 24 jam dengan menaruhnya di tempat yang tidak terpapar cahaya matahari. Baru sesudah itu saya mulai lakukan penggosokan untuk membentuk, pengasahan dan penyangklingan. Hasilnya? Whaaaaaw...sungguh ji... ji... walangkaji... Koko Beluk... demh... demh... pling... pling... Kempling... kanti kersaning Gusti...

Gimana tips dan trik yang sudah Anda baca? Pastinya menambah refrensi Anda dalam hal perbatuan akik dong,hehehe... Silakan terapkan tips dan trik itu untuk merawat bahan batuan akik Anda, dan apabila ada hal yang kurang paham atau yang ingin ditanyakan silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar.

                                                                                           

Wednesday, May 27, 2015


Sapta Pesona Pariwisata Indonesia Pesona Sapta Pesona Pariwisata Indonesia Beberapa tahun lalu pariwisata Indonesia sempat mengalami kejayaan. Bila dibandingkan dengan masa sekarang, memang secara kuantitas jumlah wisatawan terus meningkat, namun seharusnya sudah lebih jauh dari itu. Pada program Visit Indonesia Year 1991 dahulu dikampanyekan program Sapta Pesona.
  
Hal tersebut menunjukkan hasil yang memuaskan terbukti dengan terlampuinya target kunjungan wisata. Visit Indonesia 1991 Pada tahun 1991 badak bercula satu binatang khas daerah Ujung Kulon, Jawa Barat digunakan sebagai maskot tahun kunjungan Indonesia 1991 (Visit Indonesia Year 1991). Ini merupakan kampanye promosi pariwisata Indonesia ke seluruh dunia oleh Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (sekarang: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata). Pada program Visit Indonesia 2008 sekarang ini agaknya patut diingatkan kampanye yang sama, agar program pembangunan pariwisata Indonesia dapat berjalan dengan baik dan dapat menunjukkan hasil yang nyata bagi pembangunan nasional serta tidak dijalankan dengan setengah hati oleh segenap lapisan elemen bangsa.

Tujuan diselenggarakan program Sapta Pesona adalah untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Logo Sapta Pesona ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Nomor: KM.5/UM.209/MPPT-89 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sapta Pesona. Logo Sapta Pesona dilambangkan dengan Matahari yang bersinar sebanyak 7 buah yang terdiri atas unsur: 
  1. Keamanan
  2. Ketertiban
  3. Kebersihan
  4. Kesejukan
  5. Keindahan
  6. Keramahan
  7. Kenangan
1. Keamanan
Yakni suatu kondisi dimana wisatawan dapat merasakan dan mengalami suasana yang aman, bebas dari ancaman , gangguan, serta tindak kekerasan dan kejahatan merasa terlindungi dan bebas dari :
  • Tindak kejahatan, kekerasan, ancaman seperti kecopetan, pemerasan, penodongan,dan penipuan dan lain sebagainya.
  • Terserang penyakit menular dan penyakit berbahaya lainnya.
  • Kecelakaan yang disebabkan oleh alat  perlengkapan dan fasilitas yang  kurang baik,seperti kendaraan, peralatan untuk makan dan minum, lift, alat perlengkapan atau rekreasi dan olah raga.
  • Gangguan oleh masyarakat antara lain berupa pemaksaan olh pedagang asongan, tangan jahil, ucapan dan tindakan serta prilaku yang tidak bersahabat dan lain sebagainya. Jadi aman berarti terjamin keselamatan jiwa dan fisik, termasuk milik (barang) wisatawan.
2. Ketertiban
Yakni suatu kondisi yang mencerminkan suasana tertib dan teratur serta disiplin dalam semua segi kehidupan masyarakat baik dalam hal lalu lintas kendaraan, penggunaan fasilitas maupun dalam berbagai perilaku masyarakat lainnya , misalnya :
  • Lalu lintas tertib , teratur dan lancar alat angkutan datang dan berangkat tepat pada  waktunya,
  • Tidak nampak orang yang berdesakan atau berebut mandapat atau membeli sesuatu yang diperlukan,
  • Bangunan dan lingkungan ditata teratur dan rapi,
  • Informasi yang benar dan tidak membingungkan,
3. Kebersihan
Yaitu kondisi  yang memperlihatkan sifat bersih dan higienis  baik   keadaan lingkungan, sarana pariwisata, alat perlengkapan  pelayanan maupun manusia yang memberikan pelayanan tersebut. Wisatawan akan merasa  betah & nyaman bila beradaditempat  tempat yang bersih dan sehat seperti :
  • Lingkungan yang bersih baik dirumah sendiri maupun di tempat – tempat umum , hotel , restoran , angkutan umum , tempat rekreasi , tempat buang air kecil / besar,
  • Sajian makanan dan minuman bersih dan sehat,
  • Penggunaan dan penyediaan alat perlengkapan yang bersih,
  • Pakaian dan penampilan petugas bersih , rapi  dan tidak mengeluarkan bau tidak sedap,
4. Kesejukan
Yaitu terciptanya suasana yang segar, sejuk serta nyaman yang dikarenakan adanya penghijauan secara teratur dan indah baik dalam bentuk taman maupun penghijauan disetiap lingkungan tempat tinggal , untuk itu hendaknya kita semua :
  • Turut serta aktif memelihara kelestarian lingkungan dan hasil penghijauan yang telah dilakukan masyarakat ataupun pemerintah,
  • Berperan secara aktif untuk menganjurkan dan memelopori agar masyarakat setempat melaksanakan kegiatan penghijauan dan memelihara kebersihan , menanam berbagai tanaman dihalaman rumah masing – masing baik untuk hiasan maupun tanaman yang bermanfaat bagi rumah tangga, dihalaman sekolah dan lain sebagainya,
  • Membentuk perkumpulan yang bertujuan memelihara kelestarian lingkungan,
  • Menghiasi ruang belajar / kerja , ruang tamu , ruang tidur dan tempat lainnya dengan aneka tanaman penghias atau penyejuk,
  • Memprakarsai berbagai kegiatan dan upaya lain yang dapat membuat lingkungan hidup kita menjadi sejuk , bersih , segar dan nyaman,
5. Keindahan
Keadaan atau suasana yang menampilkan lingkungan yang menarik dan sedap dipandang disebut indah. Indah dapat dilihat dari berbagai segi, seperti dari segi tata warna, tata letak, tata ruang bentuk ataupun gaya dan gerak yang serasi dan selaras, sehingga memberi kesan yang enak dan cantik untuk dilihat.Indah yang selalu sejalan dengan bersih dan tertib serta tidak terpisahkan dari lingkungan hidup baik berupa ciptaan Tuhan Yang Maha Esa maupun hasil karya manusia.Karena itu kita wajib memelihara lingkungan hidup agar lestari dan dapat dinikmati oleh umat manusia.

6. Keramahan
Ramah tamah merupakan suatu sikap dan perilaku seseorang yang menunjukkan keakraban, sopan, suka membantu, suka tersenyum dan menarik hati.Ramah tamah tidaklah berarti bahwa kita harus kehilangan kepribadian kita ataupun tidak tegas dalam menentukan sesuatu keputusan atau sikat. Ramah, merupakan watak dan budaya bangsa Indonesia pada umumnya, yang selalu menghormati tamunya dan dapat menjadi tuan rumah yang baik. Sikap ramah tamah ini merupakan satu daya tarik bagi wisatawan, oleh karena itu harus kita pelihara terus.

7. Kenangan
Kenangan adalah kesan yang melekat dengan kuat pada ingatan dan perasaan seseorang yang disebabkan oleh pengalaman yang diperolehnya. Kenangan dapat berupa yang indah dan menyenangkan, akan tetapi dapat pula yang tidak menyenangkan. Kenangan yang ingin diwujudkan dalam ingatan dan perasaan wisatawan dari pengalaman berpariwisata di Indonesia, dengan sendirinya adalah yang indah dan menyenangkan. Kenangan yang indah ini dapat pula diciptakan dengan antara lain :
  1. Akomodasi yang nyaman, bersih dan sehat, pelayanan yang cepat, tepat dan ramah, suasana yang mencerminkan ciri khas daerah dalam bentuk dan gaya bangunan serta dekorasinya,
  2. Atraksi seni budaya daerah yang khas dan mempesona baik itu berupa seni tari, seni suara dan berbagai macam upacara,
  3. Makanan dan minuman khas daerah yang lezat, dengan penampilan dan penyajian yang menarik. Makanan dan minuman ini merupakan salah satu daya tarik yang kuat dan dapat dijadikan jati diri (identitas daerah),
  4. Cenderamata yang mungil yang mencerminkan ciri-ciri khas daerah bermutu tinggi, mudah dibawa dan dengan harga yang terjangkau mempunyai arti tersendiri dan dijadikan bukti atau kenangan dari kunjungan seseorang ke suatu tempat/daera/Negara.
Sapta pesona dan tujuan pelaksanaannya begitu luas dan tidak untuk kepentingan  pariwisata semata. Memasyarakatkan dan membudayakan Sapta Pesona dalam kehidupan sehari–hari mempunyai tujuan jauh lebih luas , yaitu untuk meningkatkan disiplin nasional dan jati diri bangsa yang juga akan meningkatkan citra baik bangsa dan negara.


Sunday, May 3, 2015



Braga kerap membuat saya gundah. Secara personal, tempat ini menyimpan banyak memori yang seringnya ingin saya lupakan. Namun, siapa yang mampu menolak keelokan Braga? Maka, pagi itu saya memutuskan untuk menjumpai Braga yang katanya sedang rajin bersolek bak perawan yang sedang mekar-mekarnya. Petualangan dimulai dari ujung Braga - tempat dimana angkot Kalapa-Ledeng menurunkan saya.
"Braga, neng!"
Bergegas saya turun, mengulurkan dua lembar uang dua ribuan.
Si Mang Angkot memberikan kembalian dan begitu saya menerimanya, angkot itu segera berlalu. Meninggalkan asap yang sialnya harus saya hirup. Ugh, tahu begitu saya harusnya memakai masker...
Namun kekesalan saya mendadak hilang ketika menangkap sosok gedung Landmark. Gedung yang dulu sekitar pertengahan 90-an (apakah sekarang juga masih?) seringnya digunakan sebagai tempat pameran komputer.


Pagi itu, Braga sudah ramai. Para pekerja sibuk mendandani trotoar. Maklum saja, KAA (Konferensi Asia Afrika) sudah tinggal hitungan hari. Suara gerinda berpadu dengan tegel. Percikan api yang dihasilkan dari mesin las menambah semarak pagi. Sementara beberapa bocah berseragam merah-putih berjalan sambil berjingkat-jingkat diantara tumpukan tegel dan kabel-kabel yang berserakan.
Braga memang masih seperti dulu meski tentu saja harus diakui bahwa Braga semakin genit akhir-akhir ini.
"Sendirian saja?" seorang pekerja menyapa saya.
Saya cuma mengangguk sambil tersenyum.
Sebenarnya pagi itu saya ingin melewatkan hari di Sumber Hidangan - sebuah resto es krim jadul yang kelezatan es krimnya setara dengan es krim di Toko Oen Semarang. Tapi rupanya kedai es krim legendaris itu baru buka jam sembilan an. Sedangkan saya harus segera bergegas ke Toko Kopi Aroma untuk berbelanja beberapa bungkus kopi. Jadi akhirnya diputuskan bahwa Sumber Hidangan bisa menunggu. Pagi ini, sebelum  melangkahkan kaki ke arah Banceuy, saya membiarkan diri larut ke dalam keriuhan Braga.
Takjub! Braga ternyata lebih indah dibanding dulu. Terima kasih kepada KAA yang sebentar lagi akan diselenggarakan di sini. Bangunan-bangunan tua itu masih terawat. Sebagian di cat ulang. Beberapa bangunan tua itu ada yang beralih fungsi menjadi kafe atau hostel. Beberapa masih tetap berfungsi seperti dulu.
Seorang pramusaji sebuah kafe pagi itu sudah terlihat sibuk. Setelah menyapu ruang kafe, sambil membawa lap ia berjalan keluar. Sambil bersiul-siul, ia menunaikan tugas paginya dengan penuh semangat. Melap daun-daun jendela berwarna coklat tua sambil sesekali berceloteh riang dengan para pekerja yang berada tak jauh darinya.



Selain deru kendaraan, pagi itu Braga juga diramaikan oleh celoteh riang para penumpang kendaraan wisata. Wow!! Tak disangka banyak yang ingin menikmati Braga di pagi hari. Mungkin memang lebih baik di pagi hari, karena di siang hari jalanan ini akan berubah menjadi tak nyaman akibat puluhan mobil yang berjejal di tempat ini.



Semakin siang Braga semakin panas. Bergegas saya berjalan meski beberapa kali harus berhenti karena ada saja sudut Braga yang menarik untuk difoto. Hingga pada akhirnya di penghujung jalan, tepatnya di seberang Museum KAA, saya duduk di sebuah bangku taman yang ada di situ. Hanya duduk diam dan berusaha menikmati Braga pagi ini. Harus diakui, Braga menjelang KAA memang berubah menjadi cantik. Bila diibaratkan wanita, Braga adalah seorang wanita paruh baya atau mungkin bisa dikatakan mulai memasuki usia senja namun selalu berusaha untuk tampil segar dan chic demi sebuah perhelatan internasional yang luar biasa. Selain itu, Braga menjelang KAA agaknya menjadi sebuah destinasi selfie baru bagi para warga Bandung maupun bagi para wisatawannya. Lihat saja! Tak jauh dari bangku tempat saya duduk, tiga orang pria berpakaian rapi ala pria-pria kantoran membawa smartphone lengkap dengan tongsisnya dan berpose dengan latar pemandangan Jalan Braga maupun Jalan Asia Afrika.

Ah! Selamat menyambut KAA, Braga!


Friday, April 10, 2015


Diiringi suara mesin kereta api, saya menaiki anak tangga menuju Ratu Boko. Ini kunjungan kedua setelah lebih dari tiga tahun tidak menyambangi tempat ini. Kali ini, saya akan berburu sunset.
Ratu Boko yang dulu saya kenal tak begini. Tak bersolek centil bak perawan yang sedang mekar-mekarnya. Boko yang dulu saya kenal amat bersahaja dalam kesederhanannya.
Baru beberapa langkah berjalan, saya berhenti. Mencoba duduk di bangku taman artistik yang terbuat dari besi tempa sambil menikmati duo merapi merbabu yang malu-malu menyembul dari balik awan. Beberapa pelancong berlalu-lalang, ada yang terengah-engah, ada yang tergelak, ada yang berkali-kali mengeluarkan pujian bagi keindahan alam Boko. Siapa sih yang tidak jatuh cinta pada kemolekan alam Boko?



Saya melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi terdengar desingan bunyi kereta dari kejauhan. Terus menaiki anak tangga hingga akhirnya wajah Ratu Boko nampak. Ada keterkejutan sedikit di hati. Boko bersolek tapi entah mengapa saya merasa ia bersolek sedikit lebay. Berbeda dengan candi-candi di Ayuthayya atau Siam Reap sana, Boko terlihat lebih 'wangi'. Rumput yang selalu terpangkas rapi, perdu dan bunga-bunga menghiasi pelataran Boko. Sebuah pagar  besi berukuran sepinggang berdiri pongah, siap menghadang para pelancong yang nekat datang ke Boko namun tak sesuai jadwal jam buka. Sedikit kontras bila saya menjelajahi Bojo lebih ke dalam sana, tepatnya di seputar area keputren. Agaknya, pengelola Boko memang berniat 'menjual' area gerbang ini. Sedikit kecewa karena printilan-printilan itu justru membuat karakter Boko menjadi sedikit memudar.
Sementara saya sibuk menyapa bebatuan di tempat ini, beberapa pelancong sedang mengapresiasi keindahan Boko dengan cara mereka sendiri. Berlenggak-lenggok centil atau bergandengan tangan dengan kekasih lalu mengabadikan keriangan mereka dalam gambar dua dimensi. Ah, saya jadi teringat ucapan seorang kawan. Bahwa kita saat ini kebanyakan mengapresiasi karya indah masa lalu justru dengan cara memunggunginya. Saya terbahak dalam hati. Ah, andai kali ini saya tak datang sendirian mungkin saya pun akan begitu juga.




Semakin menjelang senja orang semakin ramai datang ke tempat ini. Menggunakan seluruh sudut Boko dan taman-taman indahnya untuk (lagi-lagi) sekedar berfoto narsis bersama para sahabat. Sementara beberapa pecinta fotografi sibuk memasang berbagai peralatan. Berusaha menyiapkan segala sesuatu demi foto terbaik akan sebuah senja indah yang jatuh menimpa bebatuan hitam.


Bersamaan dengan adzan Maghrib yang berkumandang, saya meninggalkan tempat ini. Enggan sebenarnya tapi mau bagaimana lagi? 
Setidaknya rindu pada candi sore ini sedikit terobati.


Wednesday, February 4, 2015

Wisata Lembang memang tidak ada habisnya, salah satu tempat wisata di Lembang yang tergolong baru adalah Floating Market. Floating Market Lembang menawarkan wisata alam pedesaan yang asri dan sejuk, dilengkapi dengan segala keunikan yang dimilikinya. Floating Market Lembang mulai dibuka sebagai salah satu tempat wisata di Lembang pada tanggal 12 Desember 2012.


danau Situ Umar

Floating Market Lembang yang beralamat di Jalan Grand Hotel No. 33E merupakan sebuah kawasan wisata seluas lebih dari 7 hektar dengan sebuah danau bernama Situ Umar yang menjadi pusatnya. Floating Market Lembang menawarkan keunikan berupa wisata pasar terapung satu-satunya disekitar Jakarta. Apa itu pasar terapung? Pasang terapung adalah sebuah pasar yang berada di atas air, biasanya menggunakan perahu, seperti di Bangkok, Kalimantan, dan juga seperti yang sering kita lihat di layar televisi (iklan RCTI). Namun, Floating Market Lembang tidak seperti pasar terapung pada umumnya, karena tempat ini memiliki konsep wisata, bukan pusat perdagangan.


Floating Market Lembang

Pasar terapung di sini tidak berjualan sayur, buah, atau daging mentah, melainkan menjajakan berbagai jenis makanan dan jajanan yang enak, misalnya baso tahu, colenak, siomay, tahu lembang, surabi, sosis bakar, tempe mendoan, batagor, lotek, jagung bakar, karedok, otak-otak, ketan bakar, duren bakar, jamur, dim sum, dan lain-lain dengan harga mulai dari 5,000 Rupiah untuk makanan ringan sampai dengan 35,000 Rupiah untuk makanan yang lebih berat. Selain itu, perahu-perahu yang menjajakan berbagai jenis makanan ini juga sudah diatur dan diparkir dengan rapi, tidak seperti di pasar terapung tradisional yang berantakan, sehingga pengunjunglah yang akan mendatangi perahu-perahu ini. Total ada sekitar 46 perahu dengan dagangan yang berbeda-beda.

Selain pasar terapungnya, Floating Market Lembang juga mempunyai fasilitas gazebo di sektiar danau yang dapat anda sewa dengan biaya 65,000 Rupiah per jam. Terdapat juga berbagai wahana permainan dan kegiatan menarik yang sangat cocok untuk anak kecil dan keluarga :
  • Memberi makan ikan
  • Memberi makan angsa
  • Memberi makan kelinci
  • Kano
  • ATV
  • Flying fox
  • Perahu kayuh
  • Sepeda air
  • Sampan
  • Kebun petik strawberry
  • Kebun sayur organik

taman angsa Floating Market Lembang


permainan air Floating Market Lembang

Harga tiket masuk wahana permainan di Floating Market Lembang bervariasi dengan kisaran harga mulai dari 10,000 Rupiah sampai dengan 70,000 Rupiah. Selain itu, juga terdapat restoran dan factory outlet di Floating Market Lembang.
Harga tiket masuk Floating Market Lembang adalah 10,000 Rupiah per orang, dan 5,000 Rupiah per mobil. Tiket masuk Floating Market Lembang yang sudah anda beli kemudian dapat anda tukarkan dengan berbagai jenis minuman hangat di dalam, pilihan minuman hangat yang ada yaitu Lemon Tea, Milo, Coffe latte, dan Choco Latte.


koin Floating Market Lembang

Untuk dapat berbelanja dan bermain di wahana permainan Floating Market Lembang, anda harus menukarkan uang anda dengan koin khusus. Koin khusus ini ada 4 jenis dengan 4 warna berbeda sesuai dengan nilai koin tersebut. Nilai koin yang ada yaitu 5,000 (kuning), 10,000 (biru), 50,000 (pink), dan 100,000 (oranye). Saran saya, lebih baik tukarkan koin dengan nilai 5,000 dan 10,000 saja dalam jumlah banyak dari pada koin dengan nilai yang besar. Ingat, koin yang sudah anda tukarkan tidak dapat diuangkan kembali, namun dapat anda bawa pulang dan dipakai di kunjungan anda yang berikutnya.

Jam Buka Floating Market Lembang
  • Weekdays: 10 pagi sampai dengan 5 sore
  • Weekend: 9 pagi sampai dengan 10 malam



Lasem adalah sebuah kecamatan yang ada di kota Rembang. Tepatnya kota Lasem ini mendapat julukan sebagai “Little Tiongkok”. Hal ini dapat dilihat dari bangunan-bangunan tua yang berada di kota Lasem ini. Dilihat secara detail bangunan-bangunan yabg ada di Lasem ini di dominasi dengan bangunan berarsitektur China. Lasem selain dikenal dengan “Little Tiongkok”, juga terkenal akan hasil Batiknya.

Batik Lasem ini dikenal dengan ke unikan motif dan coraknya, dikarenakan di dalam batik Lasem terdapat akulturasi antara Jawa dan China. Awal mulanya batik masuk ke Lasem ini dibawa oleh seorang anak buah kapal Laksamana Cheng Ho yang bernama Bi Nang Un dan isterinya yang bernama Ibu Na Li Ni yang masuk ke Lasem pada tahun 1400 an. Mereka menetap di Jolotundo, Bi Nang Un ini adalah ahli Seni terutama dalam membuat kerajinan dari tembaga dan ukiran. Sedangkan istrinya Ibu Na Li Ni ahli dalam seni gambar yang di goreskan pada subuah kain yang dikenal dengan seni batik tulis, sebelum Ibu Na Li Ni datang ke Lasem seni batik tulis sudah ada di tanah Jawa, namun karena sifat batik tulis Lasem ini yang tidak komersil maka belum terlalau terkenal.

Batik Lasem ini mulai besar setelah kedatangan saudagar miniman keras dari Tiongkok pada tahun 1600 an, Pengusaha dari Tiongkok ini adalah seorang ahli gambar dan ahli kaligrafi, dialah yang memberikan gambar-gambar motif China ke dalam batik Lasem.

Pada zama dahulu kota yang berada di pesisir Utara Pulau Jawa adlah kota pelabuhan yang besar. Maka dari itu batik Lasem merupakan batik pesisir. Di kota-kota pelabuhan inilah akulturasi antara masyarakat pribumi dan para pedagang yang berasal dari negara-negara yang bersinggah untuk berdagang dengan mudah nya terjadi. Kebanyakan pedagang yang berdomisili di Lasem pedagang dari China, maka pengaruh budaya China inilah yang berpengaruh kepada orang pribumi. Hal ini bisa kita jumpai dari motif dan corak batik tulis Lasem tersebut, motif bambu, bunga seruni, bunga teratai, dan kelelawar (bien fu), naga dan burung (burung hong) itu semua ada di beberapa moti batik Lasem.

Karena mitif Tionghoa inilah batik Lasem berbeda dengan batik motif kerajaan. Seperti batik yang berasalm dari Solo, Yogyakarta, Banyumas, dan Wonogiri. Motif batik ini bersifat geometris.

Pada zaman Belanda Lasem merupakan lima besar aerah penghasil batik. Lima besar itu antara lain Solo, Yogya, Pekalongan, Banyumas, dan Lasem. Bahkan pada zaman dahulu batik Lasem ini dapat merambah ke beberapa kota di Indonesia, seperti Manado, Sumatera, bahkan sampai ke Malaysia, Singapore, Brunai, dan Suriname. Bahkan motif dan corak batik Lasem ini menjadi populer di Suriname, kepopuleran batik Lasem ini dibawa oleh orang-orang Pulau Jawa yang di bawa Belanda untuk kerja kontrak di Suriname.

Batik hasil akulturasi antara China dan Jawa ini yang terkenal selain itu di Lasem ini terdapat motif batik khas nya yaitu motif Ltoan dan Batu Pecah/Kricak. Latoan ini adalah tanaman khas yang ada di di pesisir pantai, buah latoan ini yang biasa di buat makan urap oleh penduduk sekitar. Latoan ini banyak terdapat di daerah Lasem oleh karena itu Latoan dibuat sebagai motif batik khasnya. Selain latohan terdapat motif Batu Pecah, motif ini sangat memiliki nilai sejarah bagi warga Lasem. Pada zaman dahulu terdapat epidemik malaria dan ifluenza yang menyerang warga Lasem dan Rembang. Adanya musibah itu banyak kematian di daerah Lasem dan Rembang, dampak dari musibah itu adalah kesediahan yang mendalam bagi masyarakat Lasem dan Rembang. Kasedihan ini di visualkan dalam bentuk motif batik tulis yaitu Batu Pecah, motif Batu Pecah ini sangat bagus maka dari itu banyak daerah lain yang menirunya.

Batik Lasem sangat terkenal dengan akulturasi dan motif batiknya, selain itu batik Lasem juga memiliki warna khas batiknya yaitu Merah Darah (gatih pitik) ayam, hijau daun dan warna biru tua. Dari perpaduan akulturasi, motif, dan warna, terdapat perpaduan tiga kali proses pewarnaan dalam pembuatan batik Lasem ini dikenal dnegan sebutan batik Tiga Negeri.
Proses-proses itu adalah pewarnaan merah, lalau dimasukan klotoran agar malam (lilin) yang di buat untuk menulis motifnya hilang, dicampur dengan tanah, lalu dimasukkan kedalam pewarna biru dan yang terakhir adlah warna coklat. Semua proses itu dilakukan di dalam ruangan yang tidak terkena cahaya matahari. Secara istilah batik Tiga Negeri itu, warna merahnya berasal dari Lasem, biru dari Pekalongan, dan coklat berasal dari Solo.

Selain motif motif tradisional di Lasem, sekarang berkambang motif baru pada batik Lasem,motif ini di kembangkan oleh sesepuh masyarakat Tionghoa yang bernama Sigit Wicaksono yang  memiliki nama China  Nyo Tjen Hian . Beliau  seorang pengusaha Batik yang bermerek Batik Sekar Kencana. Beliau sekarang berumur 84 tahun.

Beliau mengembangkan  motif  baru yang menggunakan huruf Thionghoa. Proses penciptaan motif ini adalah  pada saat malam tahun baru China. Dalam perenungan nya, beliau mendapatkan semacam ilham untuk  membuat motif yang baru dalam batik. Akhir dari proses perenungan ini lahir lah  motif baru. Motif ini adalah berupa kata kata mutiara dalam aksara  China, filosofi yang  terkandung di dalam motif ini adalah empat penjuru samudera semua nya adalah sama,bakti anak terhadap orang tua murid kepada guru, dan rakyat kepada pemerintah.Agar bisa bergabung  dengan filosofi Jawa,  Beliau menuliskan motif ini  ke dalam sebuah batik yang bermotifkan Sekar Jagat,Sekar jagat itu sendiri arti nya adalah Bunga Dunia.

Selain itu beliau juga menciptakan motif dengan tulisan Tinghoa Hek Sia Ping An Wang Se Ruk I yang arti nya “se isi rumah sentosa segala macam usaha seusai dengan apa yang di kehendaki”,  ada beberapa motif batik yang bertuliskan filosofi Tionghoa yang beliau ciptakan.

Awal nya beliau ragu dengan motif ini. Apakah bisa di terima di masyarakat apa tidak. Namun, pada saat pameran batik di Rembang dan beliau memperlihatkan motif ini. Sambutan yang sangat meriah yang beliau dapatkan. Sekarang batik ini laku keras.

Batik Lasem dapat di katakan sebagai bukti akulturasi antara masyarakat China dan Pribumi. Proses ini sudah berlangsung ratusan tahun dan karena akulturasi nya ini lah maka batik Lasem dikatakan batik khas.